Tampilkan postingan dengan label MY STORY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MY STORY. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 November 2012

12 Oktober 2012

Kurasa hatiku memang tak pernah bosan membahas tentang kisah cintaku yang tak tau kepada siapa dia akan berlabuh. Tak ada henti-hentinya hati ini berbisik menuai hasrat. Ditemani ribuan puisi cinta yang tercipta oleh lidah yang tak bertulang ini.
Lalu, apa kabarmu saat ini ?

Senja

Dalam kenangan kita bertemu namun dalam kenangan juga kita berpisah dan senja membingkainya.
Setiap saat kau mengubah warna birumu , saat itu pula jiwaku juga berubah seiring warnamu.

Jumat, 28 September 2012

Menjelaskan Kesepian

Waktu merangkak dengan cepat, merangkak yang kita kira lambat ternyata bergerak seakan tanpa jerat. Semua telah berubah, begitu juga kamu, begitu juga aku, begitu juga kita. Bahkan waktu telah menghapus KITA yang pernah merasa tak berbeda, waktu telah memutarbalikkan segalanya yang sempat indah. Tak ada yang tahu, kapan perpisahan menjadi penyebab kegelisahan. Aku menjalani, kamu meyakini, namun pada akhirnya waktu juga yang akan menentukan akhir cerita ini. Kamu tak punya hak untuk menebak, begitu juga aku.

Semua yang Kusebut Kamu!

Semua yang kusebut kamu

adalah langit yang membuai riuh dalam keramaian

Semua yang kusebut kamu

Sepertinya Aku Mencintaimu


Awalnya, matamu dan senyummu tak berarti apa-apa bagiku. Sapa lembutmu, tutur katamu, bukan menjadi alasan senyumku setiap harinya. Semua mengalir begitu saja, kita tertawa bersama, kita menghabiskan waktu bersama, tanpa tahu bahwa cinta diam-diam menyergap dan menyeringai santai dibalik punggungmu dan punggungku. Kita saling bercanda, menertawakan diri sendiri, tanpa tahu bahwa rasa itu menelusup tanpa ragu dan mulai mengisi labirin-labirin hatimu dan hatiku yang telah lama tak diisi oleh seseorang yang spesial.


Tatapan matamu, mulai menjadi hal yang tak biasa dimataku. Caramu mengungkapkan pendapat, tak lagi menjadi hal yang kuhadapi dengan begitu santai. Renyah suara tawamu menghipnotis bibirku untuk melengkungkan senyum manis, menyambut lekuk bibirmu yang tersenyum saat menatapku. Aku tahu semua berubah menjadi begitu indah, sejak pembicaraan yang sederhana menjadi pembicaraan spesial yang begitu menyenangkan bagiku. Aku bertanya ragu, inikah kamu yang mampu membuatku melamun sepanjang waktu?


Tanpa kusadari, namamu sering kuselipkan dalam baris-baris doa. Diam-diam aku senang menulis tentangmu, tersenyum tanpa sebab sambil terus menjentikkan jemariku. Tanpa kesengajaan, kau hadir dalam mimpiku, memelukku dengan erat dan hangat, sesuatu yang belum tentu kutemukan dalam dunia nyata saat aku terbangun nanti. Hari-hariku kini terisi oleh hadirmu, laju otakku kini tak mau berhenti memikirkanmu, aliran darahku menggelembungkan namamu dalam setiap tetes hemoglobinnya. Berlebihan kah? Bukankah mahluk Tuhan selalu bertingkah berlebihan ketika sedang jatuh cinta?


Saat menatap matamu, ada kata-kata yang sulit keluar dari bibirku. Saat mendengar sapa manjamu, tercipta rasa yang begitu lemah untuk kutunjukkan walaupun aku sedang berada bersamamu. Aku lumpuh dan bisu, saat menatap matamu apalagi mendengar suaramu. Aku membiarkan diriku jatuh dalam rindu yang mengekang dan membuatku sekarat. Aku membiarkan diriku tersiksa oleh angan yang kau ciptakan dalam magisnya kehadiranmu. Astaga Tuhan, ciptaanMu yang satu ini membuatku pusing tujuh keliling!


Berani-beraninya kamu mengganggu pola makan dan jam tidur malamku. Setiap malam, ketika dingin menyergap tubuhku, aku malah membayangkanmu, bagaimana jika kamu memelukku? Bagaimana jika ini? Bagimana jika itu? Ah, selain indah ternyata kamu juga pandai menganggu pikiran seseorang, sehingga otakku hanya berisi kamu, kamu, dan kamu dalam berbagai bentuk!


Sepertinya aku mencintaimu…
Pada setiap percakapan kecil yang berubah menjadi perhatian sederhana yang kau perlihatkan padaku.

Sepertinya aku mencintaimu…
Dengan kebisuan yang kau sampaikan padaku. Kita hanya berbicara lewat tatapan mata, kita hanya saling mengungkapkan lewat sentuhan-sentuhan kecil.

Sepertinya aku mencintaimu…
Karena aku sering merindukanmu, karena aku bahkan tak tahu mengapa aku begitu menggilaimu

Sepertinya aku mencintaimu…

Kepada kamu, yang masih saja tak mengerti perasaanku.

Sepotong Senja Untuk Mantanku




“Bagas, Lintang, Langit, Laut! Itulah nama anak-anak kita.” ucapmu semangat, dibalut senyum yang mengembang di sudut bibirmu.

“Matahari, Bintang, Langit, Laut? Artistik sekali ya?” jawabku menanggapi pernyataanmu.

“Jelas!” ujarmu singkat, tawamu tetap menyeruak.

Sudah beberapa bulan sejak peristiwa itu, namun ingatanku masih begitu kuat tentangmu. Masih tersulut tawa renyahmu, masih kuingat caramu mengungkapkan rasa, dan masih begitu lekat suaramu menggelitik gendang telingaku. Dulu, aku dan kamu sempat menjadi kita, kita yang saling menyatukan rasa. Sosokmu yang penuh tanya, memaksaku untuk terus mencari jawabnya. Inikah yang disebut cinta? Selalu butuh tanya dan jawaban.

Jarak antara Yogyakarta dan Bogor memang masih setia membusungkan dada, menyombongkan diri atas prestasi yang ia tekuni, memisahkan dua orang yang saling mencintai, menjauhkan dua insan yang masih saling berbagi rindu. Jarak memang tak selalu mampu kita tembusi. Sehingga kita berkencan dengan waktu, dan orang-orang menatapnya penuh tanya. Aku dan kamu menelan rindu diam-diam. Kita juga tak bisa berbuat apa-apa, ketika jarak memang mempunyai hak untuk menjauhkan.

Aku sempat jatuh cinta dengan banyak hal yang kamu perlihatkan padaku. Aku terperangkap hening dalam angan yang mengurai segala tentangmu. Absurd memang, tapi begitu nyata kurasa. Tanpa kata, tanpa praduga, masih ada bahagia yang menyentuh lemah di batas lelahku. Apalagi yang bisa kureka-reka kala itu selain bahagia bersamamu? Menikmati setiap inci jejak rindu yang hadir. Begitu sederhana, tapi bermakna.

Semua mengalir dengan begitu indah, hingga pada sewaktu-waktu kamu mengatakan hal yang mencengangkan, “Ibuku tidak terlalu menyukai wanita Jawa.”

“Lalu, bagaimana denganku? Bagaimana dengan kita?” tanyaku cemas.

“Tapi, aku menyukaimu.” Jawabmu singkat, aku tertegun. “Ibu baik kok, yang berhak memilih kan aku.”


Beberapa menit kemudian, kita berseteru. Percakapan yang mengalir lewat mata berkaca, kali pertama aku mendengar suara tangismu, begitu lembut, begitu tulus. Aku masih ingat usaha kerasmu untuk menguatkan langkah kita, agar tak ada yang merasa tersakiti di tengah jalan. Seandainya tak ada jarak, mungkin kita bisa saling menguatkan. Tapi, apalah daya yang kaupunya dan kupunya? Kita hanyalah dua manusia angkuh yang nekat melawan arus perbedaan. Aku dan kamu hanya ditakdirkan untuk berkenalan bukan untuk menjadi pasangan kekasih Tuhan.

Rindumu dan rinduku tak lagi saling menyapa. Aku dan kamu takkan mungkin bisa seperti dulu, semua berbeda, semua berubah. Aku dan kamu tak mungkin lagi menjadi kita, karena disana mungkin kau telah bersama pilihanmu, dan disini aku telah bersama pilihanku.

Kutahu kaubegitu mencintai senja dan kilau lembutnya. Kutahu kausempat memimpikan bisa melihat senja bersama dengaku, bersama dengan anak-anak kita. Tak sempat kulihat wajah Bagas, Lintang, Langit, dan Laut, karena perpisahan tergesa-gesa menjalankan tugasnya, untuk membuat aku dan kamu seakan-akan tak pernah saling mengenal.

Maaf, karena aku tak mampu memberi keindahan dalam hidupmu. Maaf, karena aku tak bisa menggambarkan senja di bola matamu. Maaf, karena kubiarkan kamu memasuki hidupku. Harusnya kuakhiri segalanya, ketika kubiarkan kaumasuki hidupku. Jadi, takkan pernah ada kita dalam dongeng sebelum tidur ataupun dalam sejarah yang tak dibukukan.


Biarkan saja angin bersenandung sendiri

Biarkan saja wajahmu menggantung dalam sunyi

Biarkan saja tawa renyahmu menghantui hari

Itulah tanda

bahwa aku membiarkan diriku

untuk tetap merindukanmu

Hingga sekarang, masih ada doa yang mengaliri malam-malammu

Masih ada doa yang menghakimi kebahagiaanmu

Masih terucap lirih doaku, untuk menuntunmu pulang

kesini…

pulanglah…

aku merindukanmu



** 13 Okt, ponselmu dan ponselku jadi saksi, dua hati menjadi satu, melebur dalam perbedaan. Untuk pria yang sempat menjadi senja dan malamku, pria yang menjadi teman begadangku, si kriting  yang pernah menjelma menjadi tangis dan tawaku.



Penyebab Tangisku? KAMU!


Untuk Penyebab Tangisku,

Kupandangi lagi foto-foto itu, kuingat lagi kenangan-kenangan itu, kuingat lagi sosokmu, yang sempat menghancurkan aku.

Sudah beberapa hari sejak peristiwa itu, saat pertengkaran hebat kita memuncak pada kata putus, saat cekcok yang kita alami berujung pada kata pisah. Bukan karena kita, bukan karena aku ataupun kamu, tapi karena mantanmu. Dia begitu menggilaimu. Dia begitu mencintai kamu. Dia masih saja sulit melupakan kamu. Dia masih saja mengharapkan kamu, meskipun dia tahu bahwa kala itu kamu telah bersamaku.

Pesan singkatnya masih saja mengisi inbox handphone-mu, dan tahu bagaimana perasaanku saat itu? Rasanya aku ingin membentakmu dengan keras, rasanya aku ingin meronta pada ketidaktegasan yang kamu tunjukkan padanya. Ingin rasanya aku menyadarkanmu, menggoyang-goyangankan tubuhmu, "Dia mantanmu! Dia masa lalumu! Aku kekasihmu! Aku masa depanmu!"

Tapi, kau tetaplah pria baik yang sama seperti pertama kali kukenal, kau selalu takut untuk menolak orang-orang yang ingin kembali masuk ke dalam hidupmu, meskipun dia telah mengiris-iris perasaanmu, meskipun dia telah merusak dan mematahkan hatimu. Dan, kebaikanmu yang terlalu berlebihan itu berimbas padaku, menyebabkan cemburu mengalir deras didarahku, dari vena sampai arteri, hanya ada emosi yang tiba-tiba merasuki. Apa salahku sehingga kamu berbuat begini?

Kau tahu? Sebenarnya aku masih mencintaimu, sebenarnya tak ada yang lain yang bisa membuatku tersenyum, selain kamu. Tapi, semua telah terlanjur terjadi, kata putus yang kulontarkan dengan emosi kini menjadi sesal yang tak terganti.

Sempat kala itu kaumengajakku untuk kembali, seperti dulu, saat mantanmu tak menganggu hubungan kita, saat kita bisa bahagia dengan jalan kita, aku dan kamu yang dulu satu. Tapi, entah mengapa, aku ragu untuk kembali bersatu denganmu. Entah mengapa masih ada yang mengganjal dalam hatiku. Entahlah... Semua terjadi di luar perkiraanku, kita seperti dipermainkan takdir, sedangkan aku dan kamu tak sempat membaca aturan main.

Aku tidak pernah berbohong kalau aku berkata rindu. Aku tak pernah menggunakan topeng ketika aku berkata tentang cinta padamu. Aku mencintaimu, setulus dan sesederhana itu.

Aku bukan seperti mantanmu, yang seringkali menyiksamu, yang seringkali membakar emosimu. Tapi, sekeras apapun perjuanganku, mengapa tetap saja sulit membuatmu, menatapku?

Dari mantanmuyang kadangkala membasahi selimut tidurnyadengan air matayang terjatuh untukmu 


Pria dalam Pelukku


Dia selalu memelukku seperti ini. Dengan lengan yang begitu lekat dan hangat, sampai bibirku tak mampu lagi ceritakan luka yang kurasakan. Pelukan itu menjalar hingga ke sudut-sudut hati yang sempat dingin oleh pengabaiannya. Ia mengecup puncak kepalaku dengan lembut berkali-kali, dan kala itu aku hanya terdiam; tak banyak bicara- karena pelukan sudah jelaskan segalanya. Tentu saja tak ada lagi air mata, karena desah napasnya yang sejak tadi berembus menyentuh rambutku... benar-benar membuatku terasa aman dan terlindungi; walau hanya detik saja, aku benar-benar merasa bahagia.

Di malam sedingin ini, saat dia semakin eratkan peluknya, lagi-lagi dia bercerita tentang kita. Kita yang selalu saja terlupakan olehnya, kita yang sebenarnya tak pernah ada, kita yang sebabkan luka namun tak ingin mengobatinya bersama-sama. Aku tak banyak berkomentar, ketika tawa renyahnya kembali mereka-reka bayang semu. Kubayangkan tubuhnya yang tak akan pernah jauh dari pandangan. Kudekap hangat dadanya, tenggelam sangat lama di sana. Sayangnya, hanya bayangan yang tak akan mencapai kenyataan.

Aku menengadahkan wajah, menatap matanya dalam-dalam. Tak kutemukan cahaya di mata itu, hanya kekosongan, juga kegelapan. Apa yang kuharapkan dari sosok yang tak pernah berikan aku jawaban?

Kuberanikan diri menjauh, membenarkan posisi tidurku. Ia memasang wajah bingung ketika tubuhku tak lagi lekat dengan tubuhnya. Aku berbalik badan, ia bergerak cepat; memelukku dari belakang.

"Ada apa?"
"Ada apa? Harusnya aku yang bertanya."
"Ada nada menyebalkan dalam ucapanmu."
"Kenapa baru datang?"

Dia terdiam. Selalu saja terdiam, tak bisa memberi tanggapan.

"Salahkah jika aku bertanya? Ke mana saja selama ini?"
"Aku baru punya waktu saat ini. Maafkan aku..."
"Maaf yang kesekian kali!"
"Kali ini yang terakhir."
"Kalimat itu sudah kauucapkan saat terakhir kita bertemu. Sebulan yang lalu!"

Dia melepaskan peluknya, dan menjauhi tubuhku. Aku menarik selimut, karena ternyata malam semakin dingin dan nyatanya ia tak lagi memelukku. Jemariku kuat-kuat memeluk guling, berusaha mencari kekuatan di sana; dan seseorang di sampingku masih terdiam... sedang berdialog dengan kata hatinya sendiri.

"Harusnya, kau tak perlu datang jika untuk pergi lebih lama lagi."

Tiba-tiba, ia memeluk tubuhku lebih kencang dari belakang. Menggelitiki tengkuk leherku dengan sangat bringas. Aku berbalik ke arahnya, dan membiarkan bibirnya menyesap bibirku. Kupejamkan mata, dan kubiarkan lidahnya menari-nari di lidahku. Kubiarkan ia tenggelam lebih lama, dalam pejaman mata, tanpa kata, cukup dengan sentuhan- kita benar-benar menyatu. Sejauh ini, itulah yang kurasakan, meskipun ia tak pernah benar-benar tinggal.

Ia tak lagi melumat bibirku, ia letakkan rasa lelahnya dengan memelukku. Aku merancau, berkata-kata dengan cepat, tak peduli dia menyimak perkataanku atau hanya sekadar mendengarkan dan menganggapnya angin lalu.

Tak ada jawaban dari keresahan yang kuungkapkan. Aku tahu, aku murahan. Aku tak punya apapun yang pantas kubanggakan. Aku terlanjur hina. Semua orang menganggapku sampah, tapi dia memandangku dari sisi berbeda; aku jatuh cinta.

Dia satu-satunya yang menjadikanku berlian dalam kubangan. Ia mengubahku menjadi bintang dalam dinginnya malam. Dia menemukanku dalam posisiku yang terjatuh, terjungkal sangat dalam di jurang pelampiasan. Ia menarik tanganku, memelukku dengan hangat- pelukan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Akhirnya, ia memilikiku, walaupun aku tak bisa memiliki dia seutuhnya.

"Jangan pergi." tangisku mengalir membasahi pipinya.
Terdiam. Dia sama sekali tak bereaksi.
"Jangan pergi. Tetaplah di sini." ulangku lebih keras lagi.

Ia masih terdiam, tak menjawab.

"Jangan pergi. Tetaplah di sini. Aku manusia yang paling butuh kamu."

Kueratkan pelukku, tangisku pecah di bahunya; namun ia tertidur pulas dalam pelukku.

Di ujung malam, mendekati pagi; dia akan pergi lagi. Menghampiri kekasihnya yang akan dinikahinya dua hari lagi.

Aku sendiri.

Selamanya... Mungkin.

Jumat, 21 September 2012

Tuhan, apa salahku ?


Dia membenci karena masih menyayangi
Dia menjauh karena tak mampu melupakan
Lalu, apa salahku Tuhan ?
Aku tak pernah membencinya
Aku tak pernah melupakannya
Keadaan memburuk, apa aku masih baik-baik saja ?
Lantas haruskah aku membencinya ?
Tidak !!! Hidupku tak akan lama lagi
Cukup lama penantianku akan surga-Mu
Aku menyayanginya maka aku melihatnya
Tuhan, apa ini kesalahanku ???

Pengikut

  • sobat bisa menambahkan dengan yang lain bila mau
 
Free Joomla TemplatesFree Blogger TemplatesFree Website TemplatesFreethemes4all.comFree CSS TemplatesFree Wordpress ThemesFree Wordpress Themes TemplatesFree CSS Templates dreamweaverSEO Design